
Telah lama aku berdiri di sini, di antara keramaian dan hiruk-pikuk terminal Pulo Gadung. Namun tak satupun bus antar kota yang mau berhenti dan membawaku meninggalkan kebisingan ini. Hampir satu jam lebih aku di sini, tapi semua bus antar kota nampaknya penuh semua. Aku sudah mulai gelisah dan bosan dengan suasana bising di sekitarku itu, terbersit dalam anganku untuk menembus keramaian, lalu mencari tempat mangkal bus antar kota seperti Sinar Jaya misalnya. Namun belum sempat aku melangkahkan kaki, saat itulah datang seorang bapak yang nampaknya juga hendak menunggu bus antar kota. Sekilas bapak setengah baya itu ramah menegurku dan bertanya ke mana tujuanku. Percakapanpun mengalir begitu saja, tak pernah terbesit di otakku menaruh curiga kepada beliau. Beberapa saat kemudian Bapak setengah baya itu pun memberikan saran untuk naik minibus dan turun di dekat pangkalan bus Sinar Jaya.
Tanpa rasa curiga aku pun menuruti saran bapak setengah baya itu. Ia sibuk melambai-lambaikan tangan pada beberapa minibus yang lewat. Namun belum jua ada minibus yang berhenti sebagai respon atas lambaian tangannya. Sementara riuh rendah suara bising kendaraan dan teriakan pedagang asongan semakin memekakan gendang telinga. Akhirnya ada juga minibus yang berhenti menghampiri lambaian tangannya. Bapak itu pun mempersilahkan aku untuk melompat ke atas minibus terlebih dahulu. Dengan sigap aku pun segera melompat. Sesaat kemudian aku telah berada di dalam minibus yang di maksud. Tanpa memperhatikan bapak setengah baya itu, aku segera mencari tempat duduk yang berada tepat di dekat jendela kaca, dan ternyata ia mengambil tempat duduk tepat di sebelah ku. Padahal masih banyak tempat duduk lainnya yang bisa ia tempati. Akhirnya pembicaraanpun kembali berlangsung, saling tanya saling jawab, namun aku hanya menjawab seperlunya saja. Entahlah seperti ada rasa risih yang hinggap, yang membuat perasaanku menjadi was-was. Apalagi melihat caranya duduk dan caranya mengajak bicara, seolah ingin selalu dekat. Untungnya aku membawa barang bawaan yang bisa kujadikan dinding pembatas sehingga beliau tak bisa duduk merapat ke arahku. Mulailah bapak itu mengarang sebuah cerita, cerita yang lumayan menarik namun membosankan bagi diriku.
Beliau mengaku kalau saat ini dirinya sedang menghadapi sebuah masalah menyangkut harta warisan keluarganya, yang hanya akan beliau dapatkan apabila beliau telah jelas mempunyai seorang calon istri. Beliau menerangkan detail permasalahan dengan gaya bahasanya yang mungkin mampu melambungkan hayalan seseorang yang mudah terlena dengan iming-iming jutaan rupiah. Tapi maaf, tidak untukku. Aku seperti telah menebak apa ujung dari akhir ceritanya. Benar juga, akhirnya beliau memintaku untuk pura-pura menjadi calon istrinya dengan imbalan dua juta rupiah.
Dengan sopan aku pun menolak, tapi beliau terus berusaha menerangkan, memohon dan mengiba dengan berbagai kalimat yang intinya memelas, hingga membuatku curiga bahwa cerita itu hanyalah karangannya saja. Namun aku berusaha tuk tetap rileks seolah tidak menaruh rasa curiga terhadapnya. Tak terasa minibus yang kami tumpangi berhenti di sebuah jalan yang sangat besar dan bercabang-cabang, dan bapak setengah baya itu pun segera mengajakku untuk turun sementara dengan sigap tangannya meraih barang titipan temenku yang tadi kujadikan dinding pemisah tempat duduk antara diriku dengan beliau. Kontan saja akupun segera turun mengikutinya, karena beliau telah mengambil barang titipan itu dan membawanya turun. Mau tidak mau, aku pun mengikuti langkah kakinya dengan penuh tanda tanya. Rasanya tidak mungkin aku berteriak dan lari karena aku sendiri tidak tahu di mana aku berada. Jika aku berteriak maka apa yang mesti aku teriakkan, karena sejauh ini bapak setengah baya itu tidak menjahatiku. Akhirnya kuhanya bisa mengikuti beliau sambil mencermati setiap ruas jalan raya di sekitarku.
Diantara riuh rendah kebisingan lalu lintas kota Jakarta saat itu, bapak itu mengatakan bahwa pangkalan bus Sinar Jaya berada tak jauh dari tempat kami berdiri. Akupun menoleh mengikuti arah telunjuk tangannya yang menunjuk ke arah jalan sepi di ujung jalan. Selanjutnya aku segera mengikuti bapak setengah baya itu menyeberangi kawasan jalan raya yang cukup lebar.
"Maaf Pak, biar saya bawa sendiri, ini punya temen saya." kataku mencoba meminta barang yang dibawanya. Namun beliau tidak memberikan barang titipan temenku itu. Terpaksa aku pun terus mengikutinya. Kini kami telah berada di jalan raya yang sepi, di kanan kiri jalan di penuhi pohon-pohon besar yang menjulang tinggi. Hatiku semakin was-was, mau di bawa kemana aku ini. Semakin berkecamuk perasaan dalam dadaku. Pikiranku mulai dihantui perasaan curiga yang berlebihan. Namun aku masih tetap pura-pura tenang, melangkah mengikuti langkahnya menyusuri sepinya jalan raya.
Dari kejauhan nampak seorang laki-laki mondar-mandir di tepian jalan, hatiku berdebar-debar tak karuan, jangan-jangan itu teman bapak ini. Kecemasan mulai hinggap memenuhi otakku. Tak henti-hentinya aku berdoa memohon perlindungan dari Yang Maha Kuasa. Kalau bukan karena barang titipan temanku dibawa bapak itu, aku tidak akan mengikuti langkah kakinya, pasti aku sudah ambil langkah seribu. Yang aku syukuri saat itu adalah aku tidak memakai rok. Yah... untungnya aku pakai celana jeans dan sepatu sport. Sehingga memudahkan bagiku jika nanti terpaksa harus berkelahi melawannya, lalu lari sejauh-jauhnya. Sampai detik itu aku masih mencoba untuk bersikap tenang. Sambil terus mengikuti bapak itu aku memutar otakku, mencoba mencari jalan keluar seandainya terjadi hal-hal yang mungkin membahayakan keselamatan diriku.
Setidaknya hatiku cukup tenang karena aku punya sedikit bekal ilmu beladiri yang pernah kupelajari sewaktu sekolah di tingkat SMP. Mau tidak mau mungkin harus kupraktekan. Walau aku tahu aku belum tentu menang jika harus adu otot dengan pria dewasa berbadan kekar itu. Saat itulah tiba-tiba saja aku ingat nasehat dari seorang guru Tatanegara saat kumasih sekolah di SMA Katholik. Bagaimana melumpuhkan lawan yang berbadan kekar sekalipun hanya dengan menggunakan satu ibu jari. Tanpa sadar aku pun tersenyum sendiri, ketenangan batin mulai menyelinap di benakku. Dalam hati aku mulai bicara sendiri "Biarin mati-mati, kalau gak aku yang mati ya lawan yang mati". Serasa menjadi orang terkejam saat itu. Kembali kuatur nafas sekedar tuk menenangkan dan mengontrol diri. Aku mulai menyusun strategi dalam otakku, dan tetap berusaha untuk bersikap tenang.
Jarak semakin dekat, dan akhirnya...
"Alhamdulillah..." pekik jerit hatiku mensyukuri kenyataan detik itu. Ternyata laki-laki yang mondar-mandir itu bukanlah teman bapak setengah baya yang masih setia menenteng barang titipan sahabatku. Bapak setengah baya itu terus berjalan sambil tak henti-hentinya mengarang cerita seputar harta warisannya. Bosan aku mendengarnya, namun aku masih menunjukkan bahwa aku serius mendengarkan kisahnya, sambil manggut-manggut dan sesekali menampakkan wajah seolah aku merespon ceritanya. Akhirnya setelah melewati jalan raya yang sepi dan cukup panjang itu, sampailah kami di sebuah wartel dekat gerbang pangkalan Sinar Jaya. Ada binar indah di mataku begitu mengetahui aku telah berada di tempat yang cukup strategis untuk lepas dari perhatian bapak setengah baya itu. Sesaat kemudian bapak setengah baya itu mengajakku masuk ke wartel tersebut dan memintaku untuk menunggu sebentar karena ia hendak menelepon familinya untuk memberitahukan bahwa ia telah bersama calon istrinya. "Wuih... gila... bergidik hatiku, betapa pede-nya beliau, ngaca deh ngaca..." Gerutuku dalam hati.
Aku pun hanya mengangguk dengan polosnya, dan membiarkan beliau masuk ke ruang kecil untuk menelepon familinya. Tiba-tiba ada angin segar datang menyerang urat syarafku, ternyata bapak itu meninggalkan barang tititpan sahabatku tepat di dekat kakiku. Kesempatan ini pun tidak aku sia-siakan. Begitu kulihat dia sedang sibuk menekan tombol telepon dan mulai menelepon dengan bisik-bisik. Segera kuangkat barang titipan sahabatku dan dengan santai melangkah menuju pintu keluar dari wartel itu. Sesampainya di luar wartel, aku segera ambil langkah seribu. Lari......................
Aku segera berlari menuju kios pedagang asongan dan bertanya di mana aku bisa mendapatkan tiket bus Sinar Jaya. Pedagang asongan yang kutanya segera menunjukkan loket penjualan tiket bus Sinar Jaya. Setelah itu aku segera berlari menuju loket penjualan tiket tersebut. Tanpa menyia-nyiakan waktu yang ada, aku segera memesan tiket yang kubutuhkan, lalu merogoh kocekku dengan menyodorkan nominal uang sesuai harga tiket untuk satu kali perjalanan sampai ke terminal tujuanku. Ternyata bus tidak langsung berangkat, dan masih menunggu waktu sekitar 45 menit. Namun aku tidak mau menunggu di ruang tunggu, dengan setengah berlari aku segera mencari bus sesuai dengan nomor yang tertera pada tiket bus yang ada di tanganku. Tidak terlalu sulit untukku menemukan bus tersebut. Dengan cepat aku melompat ke dalam bus dan duduk di bagian paling belakang. Segera kuatur dudukku menirukan cara duduk seorang anak berandalan, yah... kedua kaki kunaikkan ke atas besi yang tepat berada di depanku, sementara badan dan kepalaku ku sandarkan lebih rendah dari kaca jendela. Sehingga tidak mungkin terlihat dari luar bus.
Kedua penumpang yang berada tak jauh di depanku menoleh ke arahku untuk sesaat. Dan aku tak peduli dengan tatapan keduanya, aku sibuk mengatur nafasku yang masih tersengal-sengal. Aku pun masih terus waspada dan terus berdoa, semoga bapak setengah baya tadi tidak menemukanku. Tak berapa lama kemudian beberapa penumpang sudah mulai memenuhi bus antar kota ini, dan akhirnya bus yang ku tumpangi inipun pelan-pelan melaju meninggalkan pangkalan Sinar Jaya itu.
Alhamdulillah... selamat aku... Segera aku memperbaiki cara dudukku. Kini aku pun bisa duduk dengan tenang. Kembali kuterbayang saat-saat mencemaskan sepanjang perjalanan siang tadi bersama bapak setengah baya itu, yang entah bernama siapa. Sebenarnya aku sendiri tidak tahu akan kebenaran cerita bapak setengah baya itu. Dan aku juga tidak peduli apa niatan yang sebenarnya ada di kepala bapak setengah baya tadi. Tidak ada maksud untuk su'udzon kepadanya, aku hanya mencoba untuk waspada dan menjaga diri dari berbagai bahaya yang mungkin mengintai diri ini.
Satu hal yang pasti, aku tidak tertarik dengan uang imbalan yang ditawarkannya, aku terus mengikuti bapak tadi karena bapak tadi membawa barang titipan temanku. Apa pun bentuk barang itu, barang itu adalah amanah yang harus kusampaikan pada keluarga sahabatku.
***Ini adalah pengalamanku sewaktu masih di PJTKI Kelapa Gading jakarta, dan hendak cuti ke Jawa ***
Dimanapun kita berada, pastikan agar selalu bersikap tenang agar kita bisa berpikir tuk mencari jalan keluar tanpa kekerasan. ^_^
Oleh: Khasanah Roudhotul Jannah (Profile)
Ungkapan Mutiara
Sabtu, 21 Mei 2011
Demi Sebuah Amanah
Selasa, 17 Mei 2011
Kaka Seorang Tentara

Guru adalah contoh bagi anak muridnya. Itulah pernyataan yang sering kita dengar. Namun tidak selamanya pernyataan itu berlaku. Ada kalanya justru guru lah yang harus belajar pada anak muridnya. Adalah Kaka, begitulah panggilan akrab salah satu anak didikku. Anak berusia 4 tahun ini dapat dikatakan sebagai salah seorang inspirator bagiku. Semangatnya untuk belajar sangat tinggi. Sebelum pintu sekolah terbuka, ia yang diantar neneknya telah menanti di depan sekolah, sambil menggendong tas bergambarkan Upin Ipin dan tempat minum di lehernya.
Aku selalu kalah cepat datang ke sekolah dengan dia. Di saat teman-temannya jarang masuk sekolah karena malas, ia nyaris selalu sekolah setiap hari. Datang selalu paling awal. Sakit pun selama ia masih bisa berjalan, ia tetap sekolah.Dia termasuk muridku yang manja namun sangat cerdas. Meskipun belum bisa membaca, tapi ia selalu bisa menceritakan buku-buku yang telah ia buka. Hampir setiap hari kata tanya kenapa dan apa terlontar dari bibir mungilnya, sampai-sampai terkadang aku tak mampu menjawab pertanyaannya. Ah terkadang aku malu padanya.
Semangatku masih kalah dari dia, terkadang aku datang terlambat. Dan terkadang aku juga malas mengajar. Tak hanya cerdas, ia sangat polos dan jujur. Suatu ketika pernah kutanyai ia apa cita-citanya, ia hanya berkata ingin seperti ayah atau kakek. Baginya, ayah dan kakek sumber inspirasi terbesar dalam hidupnya. Ia dengan ceplas ceplos menceritakan kehebatan ayah dan kakeknya ketika menunaikan tugas sebagai tentara dan polisi pengayom masyarakat. Bahkan ia tak segan-segan untuk menirukan aksi ayahnya saat menembak dan merangkak menghindari musuhnya. Membuatku terkekeh geli melihat aksinya. Lalu kulempar ia dengan sebuah bola dan menyuruhnya menendang bola. Ternyata, namanya saja yang sama dengan salah seorang pemain sepakbola Eropa, namun minatnya sangat berbeda. Malah ketika sedikit kupaksa menendang bola dan menirukan gaya Kaka, dia malah lebih tertarik dengan buku cerita yang kupegang sambil berkata “Kaka bukan pemain bola Ibu, tapi tentara…”
Aku hanya bisa tersenyum seraya bergumam... "Andai para pejabat negara memiliki semangat dan disiplin seperti dia tentulah tak kan kita dengar para pejabat yang kesiangan atau membolos. Dan andai juga para pejabat memiliki kejujuran seperti anak kecil, tentu tak kan ada istilah korupsi di negara kita tercinta ini. Seringkali kita tak menghiraukan apa yang ada dalam diri anak kecil, bahkan kita sering meremehkan mereka, padahal dalam diri mereka terdapat banyak pelajaran berharga yang bisa kita tiru. Anak-anak adalah tambang emas negara, mereka lah yang kelak menentukan nasib bangsa kita."
Semoga ada manfaatnya dari tulisan saya yang asal-asalan ini :D
Oleh: Yopi Megasari (Profile)
Senin, 16 Mei 2011
Bebas tapi Takwa

Lagi asyik-asyiknya membuat konsep untuk website Sumedang Design malah ada teman datang langsung mengajak shalat Jum'at. Padahal dekat masjid, seharusnya jalan kaki satu menit juga sampai. Tapi ini, temanku malah mengajak shalat Jum'at keluar. Ya sudahlah tanpa basi-basi aku juga oke-oke saja.
Kami berdua mengambil air wudhu dulu, kemudian berangkat ke Masjid UNPAD. Di jalan tau kenapa tiba-tiba ada polisi, padahal waktunya mau shalat Jum'at, dari logatnya polisi itu tidak sedang operasi razia tapi tetep saja menilang motor orang. Maklum jalan yang biasa dipakai ada porboden-nya, tapi kalo tidak ada polisi, aku biasanya lewat situ juga. Sekarang aku hendak melewati jalan yang di porboden itu, tapi tidak jadi setelah di depan ada polisi membentangkan kedua tangannya, arah motorku pun di putar balik, Kaburrrrrrr...
Berbalik arah dan mencari jalan yang lain hingga akhirnya sampai juga di UNPAD, dan motor pun kami parkir di depan masjidnya (Ya iyaalah, wong parkirannya juga di depan masjid, hahaha). Ketika masuk masjid lumayan sudah agak penuh, tapi kami pun berusaha menerobos dan mencari posisi sedepan mungkin, agar melihat sang Khatib.
Sambil berdiri menunggu adzan Dzuhur untuk shalat sunnah, terlihat di depan mimbar seseorang yang tidak asing lagi penampilannya. Mirip-mirip orang nomor satu di Jawa Barat ini. Setelah kami merenung sejenak ternyata ada benarnya juga, soalnya di depan masjid terlihat ada polisi berseragam komplit seperti pengawal. Di tambah lagi di tikungan tadi terlihat ada Polisi yang berjaga-jaga, seperti disengaja di pasang polisi di setiap sudut jalan menuju ke UNPAD. Ketika Khutbah pun, ada cahaya jepretan foto, seperti ada wartawan yang sedang memotret sesuatu, dan jepretannya pun terlihat beberapa kali. Dari situlah kemudian kami yakin kalau yang berkhutbah itu adalah bapak Gubernur Jawa Barat, Ahmad Heriyawan.
Sayapun mencoba menanggapi apa yang disampaikan beliau ketika Khutbahnya. Maklum pertama kali dengar Gubernur berbicara langsung, jadi ingin tau aja sejauh mana ia pandai berbicaranya.
Pertama, tentang kebebasan beragama. Kita sebagai manusia diberi kebebasan oleh Allah SWT. untuk menentukan jalan hidup kita. Kita diberi kebebasan sebebas-bebasnya di dunia ini. Tapi di samping itu, Allah juga memberikan petunjuk atau jalan untuk mencapai suatu kebenaran. Karena menurut beliau di samping manusia diberi kebebasan, Allah juga memberikan satu pilihan kepada manusia berupa kebenaran yang hakiki yaitu Islam. Silahkan manusia sekarang bebas sebebas-bebasnya di dunia ini, tapi nanti di akhirat akan menerima akibat dari perbuatannya itu. Maka dari itu, walaupun ada kebebasan dalam beragama tapi tetap di hadapan Allah Islam yang benar. Barangsiapa yang mengikuti kebenaran menurut Allah, yaitu Islam, maka dia akan selamat dunia dan selamat di akhirat.
Kedua, tentang dimensi ketakwaan. Dimensi ketakwaan juga dibagi menjadi dua bagian; Dimensi Professionalitas dan Moralitas. Keduanya tidak boleh dipisahkan jikalau bangsa ini ingin menjadi lebih baik dan bersih dari korupsi. Dimensi professionalitas mencakup pada kinerja seseorang yang sesuai dengan prosedur pelakasanaan dan dianggap benar menurut manusia itu sendiri. Sedangkan dimensi moralitas adalah cara kerja seseorang yang perilakunya benar dihadapan Allah SWT. Beliau mengambil contoh pada kisah di zaman Khalifah Ummar bin Khattab; Ada seorang pengembala muda ketika itu mempunyai ribuan kambing yang digembalanya, kemudian Ummar mendatanginya karena ingin tahu sejauh mana ketakwaan rakyatnya. Pengembala itu ditanya oleh Ummar; "Kambing punya siapa kah ini wahai fulan?", "Ini kambing punya majikan saya." Jawab si pengembala".
Untuk mengetahui kadar keimanan si pengembala itu, Ummar pun memberikan ujian terhadapnya. Ujiannya berupa pertanyaan berikut ini; "Bolehkah saya membeli satu kambing ini saja wahai fulan?", "Oh tidak boleh, ini kambing milik majikan saya dan saya hanya sebagai pegawai di sini" Jawab si pengembala. Ujian pertama telah lolos, kemudian dilanjut ke pertanyaan kedua, maklum kalau hanya satu soal kan bukan ujian namanya. Dan soal berikutnya pun tentunya pasti lebih sulit lagi. Ummar bertanya kembali; "Kalau begitu saya beli satu, dan kamu bilang ke majikan kamu kalau kambingnya hilang di makan serigala. Dengan begitu majikan kamu tidak akan tahu dan menganggap semuanya adalah sebuah kewajaran". Di dalam pertanyaan ini, si pengembali tidak lantas spontan langsung menjawabnya, maklum pertanyaannya agak berbobot dan bisa juga dianggap benar menurut professionalitas dalam pekerjaan. Begitu Ummar memberikan tawaran, ada tawannya yang menggiurkan ada pula bentuk penyelesaian yang bisa dianggap benar secara administratif. Dalam bentuk korupsi ini adalah bentuk korupsi yang bersih secara administratif kata Pak Gubernur tadi.
Kalau saya berani bilang sedikit menarik juga tuh tawaran Ummar, dan kalau diterima sah-sah saja kayanya menurut aturan manusia. Tapi apa coba jawaban si pengembala tadi; "Tapi tetap saya tidak mau menerima tawaran anda, ini kambing bukan milik saya dan saya hanya sebagai pegawai yang diberi tugas untuk mengembalakan kambing ini dan tidak untuk menjualnya". "Tapi majikan kamu tidak akan mengetahuinya?" Sahut Ummar. Si pengembala menjawab lagi; "Mungkin majikanku cuma punya dua mata dan tidak akan melihatnya, tapi kalau begitu mau di kemanakan adanya Allal itu?"
Hmm... Mantap juga jawaban si pengembala kambing tadi. Itu merupakan salah satu contoh bentuk ketakwaan yang memiliki dimensi Professinalitas dan Moralitas. Secara professional walaupun tawaran Ummar tadi dianggap benar tapi secara moralitas itu adalah bentuk kejahatan yang di pandang buruk oleh Allah SWT.. Maka dari itu jikalau bangsa ini ingin maju dan benar-benar bersih maka di dalamnya harus dihuni oleh orang-orang Takwa. Taqwa yang berarti memiliki dimensi professionalitas dan dimensi moralitas. Begitu sahut Orang Nomor satu di Jawa Barat dalam Khutbahnya tadi.
Jum'atan pun selesai dan kami keluar mesjid. Ekh ketika mau mengambil sandal ada ajudannya Gubernur tadi sambil bawa sandal, saya pikir itu sandal Pak Ahmad Heriyawan, kayanya takut di ambil orang jadi di pegang sama ajudannya. Tapi apa coba yang dilakukan ajudan Gubernur ketika ada dihadapan saya, matanya aneh sambil menaik-naikan alisnya beberapa kali, seperti menyapa saya dengan bahasa tubuh. So kenal so dekat geura uy abong ningali bengeut urang hareupeunana, wkwkwkwk. Karek apal mereun nya bengeut urang ganteng kieu, ckckckck. Surimmmmmm... Api-api teu nyaho ue akh asa haroream teuing urusan jeung nu kitu wkwkwkwkwkwkwk.
Oleh: Mamat Munandar (Profile)
Selasa, 10 Mei 2011
Ijinkan Aku Bertanya

Selalu saja resah menjarah kenangan, setiap kali kubaca episode keresahanmu, yang sering kau samarkan di hadapanku, sadarkah kau sobat kau kini rapuh? Semua ketegaran batinmu yang dulu selalu memukauku dan yang lain, kini kau asingkan di ruang hampa, ruang di mana hanya dirimu, sekeping hasrat, dan kesedihan yang risih bercengkrama, adakah embun masih menetes pada pipi-pipi pecinta dunia, aku ingin bertanya padamu sobat, kenapa pekat seakan begitu melekat kini, tapi kerongkonganku seakan tercekat, hingga tak satupun kata terucap, dan aku hanya mampu terbungkam!!!
Di Sajadah. Aku bertemu. Aku berbincang. Aku mengadu. Aku menangis, di sajadah sejuta doa kupanjatkan, aku merindui, sosok yang selalu kubanggakan dan jadi inspirasiku untuk tegar, untuk selalu berucap, hadapi apapun aku mampu, karena pertolongan Allah selalu dekat dengan hambaNya. Achhh sesungguhnya aku membenci keluahan, kenapa? Masih jelas dalam ingatanku saat abang tertuaku ajarkan aku untuk kuat, dia pernah berucap "Keluhan dan rintihan hanya untuk perempuan, rengekan dan tangisan hanya untuk anak kecil" Kau bungsu, tapi ingatlah kelak kita akan menemui hidup masing-masing, karena esok adalah misteri,belajarlah yang bisa kau pelajari, selagi itu punya nilai guna untukmu kelak dan semoga untuk sesama juga jika bisa.
Sahabatku, kuingin kau kembali, tegar dalam sikap sempurna, biarkan kisah cintamu yang kandas, terbang bersama angin yang tak pernah letih berlari, bukankah Tuhan selalu menyiapkan ganti ganda untuk semua keikhlasan hati? Dalam satu jiwa yang ramah, adilkah jika cintamu padanya mengabaikan, cintaNya, cinta ayah bunda, cinta sahabat, cinta sesama yang menyayangimu tanpa berpikir meninggalkanmu, tanpa pernah bandingkan kau dengan yang lain, tanpa pernah ingin kau terluka dan kecewa. Lalu, di mana adilmu dulu? Seperti juga kau yang bimbang menakar hati, kenapa dirimu enggan mengukur perasaan?
Biarkan gelombang berpaut pada Laut
Nyanyian semilir dedaunan
Gesekan ranting yang sendu penuh makna jadikan sebagai tumpukan galau hati
Lelaplah dalam keheningan sepi.
Aku tahu sewaktu-waktu engkau datang ke tempat itu
Ke mana lagi, jika bukan membawakan hatimu
Mencari apa yang tidak engkau dapat
Bagimu di sana langit, pantai dan desiran ombak
Sebuah bulan kuning bertengger di atasnya
Pada malam yang di dekap rindu
Menggantung...
Jauh-jauh engkau mencari tanpa bertemu
Untuk apa? Sadarlah sobat dia bukan untukmu...
Padahal bulan itu bertengger di cela-cela hatimu
Bintang-bintang akan menemanimu sampai tiba di ujung perjalanan
Segala tanda dan kepahitan getir sebelum runtuh dan kehilangan
Tak perlu kujelaskan semua
Karena yakinku kau mengerti
Aku hanya berharap kau segera pahami potensi diri
Bukan ratapi semua yang telah berlalu pergi
Seribu maaf jika tajam kataku, dalam gunting waktu yang membabat semua tanya yang menyumbat kepalaku sobat, aku tak ingin selamanya terpendam diam, dalam gamangmu, dalam penghakimanmu seakan kutak pernah peduli atas lukamu. Jangan jadikan aku dan sahabatmu bagai pesakitan di kursi persidangan yang hanya menunggu ketuk palu keputusan, biarkan kami juga rasa saat kau kecap pahitnya kecewa, saat kau reguk manisnya bahagia. Terlalu banyak tanya yang tak bisa terjawab sendiri tanpa bisa diterka ada apa sebenarnya.
06/05/2011:1:40 AM
Inspirasi menulis, saat baca status sahabat"Ya Allah sungguh aku cemburu... :( ..." Simbolnya menandakan keresahan, tapi dia menelannya sendiri, lalu di manakah mereka yang mengaku sahabatnya? Saat sahabatnya butuh tempat berbagi, acuhkah mereka?
Oleh: Moes Arsyil Ramadhan Afrilla (Profile)
Sabtu, 07 Mei 2011
Ngadem di Plaza

Siang yang panas, udara juga tak bersahabat. Kemana kukan berlindung dari panas ini? Dengan langkah pasti aku menuju Plaza terdekat. Escalator telah siap menjemput tubuh mungilku dan membawaku ke atas, ke tempat yang lumayan dingin karena full AC. Mataku mulai tengok kanan tengok kiri menyapu setiap pemandangan yang kulewati. Akhirnya kumemasuki sebuah toko baju. Gadis-gadis cantik menyambut kehadiranku dengan senyum ramah dan mempersilahkan aku untuk melihat-lihat berbagai model baju yang dipajang memenuhi ruangan toko itu. Dengan PD aku berkeliling hanya untuk melihat-lihat tanpa menyentuh baju-baju cantik yang tergantung di sana. Seorang gadis cantik yang dari tadi senyum-senyum mulai menyapaku.
Gadis Cantik: "Lei hou leng o" (Kamu cantik banget) Sambil memamerkan senyumnya.
Asa: "To ce" (Makasih)
Gadis Cantik: "Lei sam hou leng o, lei hai mei yan a" (Bajumu bagus banget, kamu orang mana)
Asa: "Ngo hai yan nei yan" (Aku orang indonesia)
Gadis Cantik: "Ghoe te hamei dong lei yat yong a, yan nei yan?"(Apa mereka sama denganmu? orang Indonesia?)"
Sambil menunjuk ke arah beberapa pengunjung yang juga berjilbab. Aku pun menoleh ke arah yang ditunjuk.
Asa: "Ghoe to hai" (Mereka juga)
Gadis Cantik: "Tanhai lei dong ghoi em dong sae wo" (Tapi kamu sama mereka beda banget)
Asa: "Hah? Em dong? (Hah? Gak sama?)
Gadis Cantik: "Lei siu hou dim, bei fu kem hou" (Senyummu sangat manis, kulitmu sangat bagus)
Aku hanya tersenyum mendengar sanjungannya. Dalam hatiku aku jadi berbicara sendiri. "Waduh Neng, walaupun kamu menyanjungku setinggi langit gak bakal deh aku belanjakan uangku tuk membeli baju-baju mahalmu, aku masuk ke tokomu ini kan cuman mau ngadem duank, hehehe" Akhirnya aku hanya bisa tersenyum-senyum sendiri sambil meninggalkan si gadis cantik pelayan toko itu.
Oleh: Khasanah Roudhotul Jannah (Profile)
Rabu, 04 Mei 2011
Jika Harus Kugadai Namaku

Suara salam dari depan pintu kamarku membuyarkan kosentrasiku yang asyik menuangkan sejuta cerita yang tak bisa kuucapkan lewat kata, bukan karena aku pemalu, bukan pula karena gagu bicaraku, tapi aku ingin menjamah dunia lebih luas, ya lewat tulisan seperti ini. Tidak mungkin mereka bisa mendengarkan suara teriakanku bercerita, jika mereka di sana aku di sini, alternatif memang ada yaitu via telepon, tapi selain mempertimbangkan biaya tarif, juga mempertimbangkan kesibukan masing masing tentunya, jika via tulisan, mereka bisa baca kapan saja jika punya waktu luang.
Bergegas bangkit kubukakan pintu, dan? "Woiiiiii kapan datang loe" Ujarku, menepuk bahunya, walau keanehan langsung bisa kulihat dari sosoknya yang kini di depan pintu. Dia langsung menerebos masuk dan melemparkan tubuhnya ke tempat tidur. Sejenak kutinggalkan dia untuk membuatkan sirup dan mengambilkan sedikit cemilan untuk teman mengobrol.
"Loe kapan datang sob" Tanyaku, ia bangkit dan duduk. Sekarang aku bisa melihat wajahnya dengan jelas. Matanya cekung dengan sedikit garis hitam menandakan dia sering begadang atau kurang tidur, kulitnya juga kusam, dengan kumis tipis dan jenggot yang tampak tidak terurus, rambutnya juga sudah mulai agak panjang, sangat kontras dengan sosoknya yang biasa, yang selalu tampil rapi, wangi, dan bersih, serta gelak tawa canda setiap kali dia datang.
Dia menatapku sesaat, lalu mereguk minuman, "Gue udah satu bulan pulang, maafin gue sobb" Lanjutnya sambil tersenyum patah.
"What? Satu bulan? Dan baru sekarang loe muncul?" Bukankah biasanya jika dia datang paling hitungan jam di rumahnya, dia akan langsung cabut menemuiku untuk mengantarkan oleh-oleh lengkap dengan sejuta cerita tentang apa saja hal-hal terbaru yang ia temukan di ibukota Jakarta, kali ini bukan saja penampilannya yang beda, tapi kebiasaannya juga ikutan berbalik arah, biasanya seminggu sebelum kepulangannya dia selalu meneleponku untuk bertanya mau dibelikan oleh-oleh apa. Aku masih ingat semester lalu dia membelikanku simcard M2, padahal di kabupatenku belum bisa dipakai, hahaha, jadilah oleh-olehnya hanya jadi koleksi di lemariku, padahal dia mau mengurangi jajannya 150.000 hanya untukku, bisa semakin lancar online. Dia tau sekali hobiku, padahal uang segitu untuk anak kuliahan sudah cukup lumayan. Namanya sahabat tidak pernah berhitung, yang aku juga tau bahagiamu juga bahagiaku begitu juga sebaliknya.
Ada keraguan terpancar di matanya, berkali-kali dihembuskan nafas panjang, "Loe kenapa sebenarnya sob" Tanyaku, yang sedikit banyak bisa merasakan kalut jiwanya.
"Gue ke sini mohon bantuan loe sob" What? Mohon? Tentu saja aku tak bisa menahan tawa.
"Sejak kapan loe segitu pormil bicara sama gw" Tanyaku.
"Gue serius" Jawabnya cepat.
"Oke to the point aja sob, can me help you?"
"Gue butuh uang sementaran, gue belum dapat kerja, gue gak tau kapan bisa mengembalikan, tapi begitu gue udah bisa ngembalikan uang loe, gue pasti bayar, loe percaya gue kan?" Perkataannya semakin terasa aneh di telingaku, sejak kapan dia kekurangan uang? Untuk apa? Dan seribu tanya yang akhirnya aku telan kembali demi melihat keseriusnya.
"Okey gw janji, gw akan bantu loe, jikapun gw gak bisa menuhi permintaan loe sekarang, gadai nama akan gw lakuin untukmu sobat"
"Maksudnya?"
"Ya jika permintaan loe melebihi kantongku, gw akan pinjam ke kakak, abang atau teman lain, tentu dengan menggunakan namaku sendiri sebagai jaminan" Jawabku. "Dengan satu syarat loe ceritain, sebenarnya loe kenapa?" Ia menunduk sebelum gerak bibirnya lantunkan satu ayat yang bukan saja mungkin mencabik hancur rasanya, sekaligus aku yang mendengarnya.
"Ortu gue cerai, bokap kawin lagi dan adik gue ikut bokap, gue ikut mama" Jawabnya setelah sedikit menguasai diri, "Gue mutusin berhenti kuliah, satu bulan mengurung diri, karena gue belum sanggup menjawab pertanyaan teman-teman, gue malu sob"
Kilas balik, saat aku mengenalnya, sosok itu bukan saja tampan dan rupawan tapi juga darmawan, dengan prestasi di bidang olahraga terutama sepakbola, mampu membuatnya diterima tanpa test di sekolah di Ibukota. Anak seorang penguasaha lumayan sukses yang serba berkecukupan tidak membuatnya lantas sombong, dia tetap santun, dan setia kawan tak butuh waktu lama untuk kami saling akrab dan bersahabat setelah perkenalan pertama. Meski berjarak komunikasi tetap jalan via telepon. Pantas, tiap kali aku telepon, HP-nya tidak pernah aktif, SMS juga tanpa balas. HP-nya ikut dia hancurkan bersama hancurnya keluarganya. Tenangkan hatimu Sob, masih ada bapak dan ibuku, abang dan kakakku, "Loe gak pernah sendiri, tegarlah, sabar dan ikhlaslah, kami masih tetap sama, jangan ada ragu" Ujarku mencoba menghiburnya.
Hidup adalah suatu awal menuju kematian
Hidup adalah suatu pergiliran kebahagiaan dan penderitaan
Hidup adalah suatu kegelisahan dan kelegaan
Hidup adalah kebahagian dan penderitaan
Berbahagialan ketika dirimu menderita dengan bersabar
Berbahagialah dirimu ketika memang harus berbahagia dengan bersyukur
Karena hidup adalah kebahagiaan walaupun sebenarnya menderita hancur
Betapa penderitaan menjadi bahagia kala kita meresapi bahwa kita masih bernafas sementara lainnya harus mati dan fana.
Betapa bahagianya hidup jika kita bersyukur atas nikmat yang ada.
Betapa bahagianya hidup jika kita bersabar atas derita yang ada.
Pelajaran dan hikmah selalu ada di sekeling kita, kalau tak ada yang pantas kita sombongkan dan banggakan, karena jika Tuhan ingin, Dia bisa merubah semua dalam sekejap. Ketahuilah, yang akan kita hadapi akan jauh lebih berat dari yang telah kita lalui, agar kita tidak lupa dan lalai saat di puncak puja-puji. Dan kita tidak akan tau apa yang terjadi esok hari, jika di hari ini kita berhenti. Semangatlah untuk bangkit sahabatku, jangan pernah menyerah. Sepahit pahitnya sebuah kenyataan, akan tetap jauh lebih indah dari indahnya sebuah mimpi, tapi bermimpilah untuk menjaga semangatmu, karena dengan adanya mimpi, kita akan berusaha untuk mewujudkannya.
Oleh: Moes Arsyil Ramadhan Afrilla (Profile)
Minggu, 01 Mei 2011
Bukan Hantu yang Aku Takutkan, Tapi Harimau

Senja mulai menyapa malam, aku tetap duduk manis pada tempatku sambil menatap aktivitas teman-teman di sekelilingku. Semua tampak sibuk mempersiapkan segala sesuatu untuk bekal pendakian malam itu. Para senior mulai menanyakan persiapan masing-masing pendaki yang tergolong masih pemula. Termasuk diriku.
"Non, jaketmu mana?" tanya seorang senior padaku.
"Ini yang kupakai" Kataku sambil menarik helai kain jaketku. Sementara kakak senior sepertinya tercengang.
"Hah...!!! Lo mau kondangan apa mau naik gunung? yang bener aja, masa naik gunung pakai jaket tipis gini, lo mau mati kedinginan?" Kata si senior sambil menahan tawa disusul lirikan dan senyum hampir semua pendaki yang ada di situ.
Aduh, jadi malu aku. Tapi aku cuma tersenyum saja mendengarnya. Sementara Ibu pembina mendekatiku sambil menyerahkan jaket yang dipakainya.
"Neh, kamu pakai ini, di atas tuh dingin, nanti kamu kedinginan" Katanya sambil menahan senyum.
"Waduh Bu, gimana dengan Ibu? ibu pakai apa?" Tanyaku heran.
"Tenang nanti Ibu cuma di post satu kok, Ibu gak ikut naik kok" Katanya menyakinkanku. Akupun segera menerima jaketnya dan tidak lupa mengucapkan terima kasih pada beliau.
Sesaat kemudian rombongan pendaki mulai bergerak melangkah menyusuri jalan setapak kaki gunung Slamet. Sesuai dengan anjuran senior, semua pendaki saling bergandengan tangan. Awal pendakian semua masih penuh semangat, masih segar, langkahpun serempak mantap dan kompak. Semakin tinggi mendaki, semakin sulit medan di daki, pertahanan fisik para pendaki pun tak lagi seimbang. Tangan yang semula saling erat bergandengan, kini satu persatu mulai terlepas. Para pendaki yang semula berjalan rapi seperti barisan ular kini telah tercerai-berai membentuk beberapa kelompok. Aku termasuk dalam kelompok yang melangkah paling depan.
Aku mencoba mengatur nafasku yang sudah sejak tadi mulai tersendat-sendat. Aku meminta teman-teman tuk berhenti sejenak. Begitulah, jika ada satu pendaki dalam kelompok itu kehabisan tenaga maka kelompok itupun segera berhenti tuk istirahat sebentar. Ini berlangsung terus-menerus sepanjang pendakian malam itu. Kebersamaan terasa begitu indah. Di sinilah kita bisa tahu karakteristik asli seseorang. Ketika kita hidup di alam bebas, ketika air dan bahan makanan susah didapat, ketika lelah dan haus datang menghampiri, sementara kita harus berbagi. Kebersamaan dan kesetiakawanan sangat dibutuhkan.
Malam terus beranjak, langkah kaki mulai terseok-seok, namun semangat tuk mencapai puncak tak jua surut. Desir angin malam lembut terasa. Dalam iringan gemerisik dedauanan dan derap kaki yang menginjak ranting-ranting kering yang berserakan. Kakak-kakak senior terlihat terus memberi semangat. Tak terasa malam beranjak pergi, langit yang semula gelap perlahan-lahan sedikit terang. Ternyata waktu telah menunjukkan jam tiga lewat waktu setempat. Tiba-tiba kawan-kawan yang satu rombongan denganku berteriak girang.
"Sedikit lagi sampai puncak, ayok percepat langkah kita, kita harus sampai di puncak sebelum matahari terbit." kata salah seorang senior.
Tanpa menunggu perintah lebih lanjut, semua bergegas tuk mendaki jalan yang sudah tidak beraturan itu. Jalan yang d penuhi dengan akar-akar pohon yang malang melintang. Terkadang harus melompati akar-akar itu, terkadang harus merunduk lewat di bawah akar-akar itu. Semua begitu semangat. Rombongan yang rata-rata teman-teman cowok itupun terus mempercepat langkahnya. Dan apa yang terjadi? Aku tertinggal jauh di belakang. Aku mencoba teriak memanggil, namun sepertinya sia-sia, mereka tak mendengar teriakanku. Karena sudah terlalu jauh. Punggung merekapun tak kelihatan. Suara langkah kaki mereka telah lenyap.
Tinggallah aku sendiri, melangkah dengan sisa-sisa tenagaku. Aku terus melangkah sendirian menapaki jalan di depanku tanpa alat penerang sedikitpun. Namun mataku masih bisa melihat jalan yang ada di depanku dalam keremangan malam itu. Bayangan ketakutan mulai menghampiriku. Bukan hantu yang aku takutkan, tapi bagaimana kalau aku ketemu harimau? Bagaimana kalau aku dicabik-cabik harimau? Team SAR pasti tak kan menemukanku. Ya Allah, lindungilah hambaMu yang lemah ini.
Tak henti-hentinya aku berdoa memohon keselamatan, hingga akhirnya nafasku seolah berhenti saat kudengar suara langkah kaki jauh dari belakangku. Langkah itu begitu cepat makin lama makin jelas. Namun tidak terdengar suara obrolan. Hatiku semakin was-was, jantungku berdetak makin cepat. Dalam kepasrahan kutetap mencoba dan berusaha tuk mempercepat langkahku. Dan tiba-tiba.
"Mbak, sendirian aja?" Lega hatiku mendengar suara itu.
"Iya." jawabku singkat. "Yang lain dah di depan dan sebagian masih di belakang." Kataku melanjutkan. Mereka ternyata 4 orang pendaki dari Bogor, cowok semua.
"Kami jalan dulu ya Mbak" Kata salah seorang dari mereka.
"Iya, silahkan" kataku sedikit berat. Akupun sedikit minggir tuk memberi jalan pada mereka. Satu persatu mereka mulai meninggalkanku dan dengan cepat melompati tanjakan yang ada di depannya. Tanjakan itu emang cukup tinggi sebatas dadaku. Dalam keadaan normal tentu saja aku bisa melompatinya, namun saat itu tenagaku benar-benar habis.
Baru saja aku ingin teriak minta tolong, salah satu dari pendaki itu membalikkan badannya dan mengulurkan tangan kanannya. Segera kuraih tangannya, dan dengan cepat dia menarikku.
"Makasih, Mas" kataku singkat. Dia pun tersenyum.
"Sama-sama Mbak, maaf kami jalan dulu, mau lihat sunrise." Katanya sambil berlalu meninggalkanku sendirian lagi. Tapi kali ini aku sudah sedikit lega, ketakutanku agak hilang, walau dikit-dikit masih dag dig dug kalau-kalau ketemu harimau, macan atau singa. hiiii... apa jadinya.
Langit tampaknya sudah makin terang walau masih dibalut keremangan malam. Samar terdengar suara ramai temen-temen yang bersorak kegirangan karena telah sampai di puncak. Hatiku makin tenang, suara-suara itu makin jelas terdengar. Kupercepat langkah kakiku. Akhirnya, sampai juga. Aku menginjakkan kaki di puncak gunung Slamet. Kulihat ke sekeliling, ternyata hampir tidak ada pepohonan. Teman-teman terlihat memainkan kameranya tuk mengabadikan keindahan sunrise di pagi itu.
Akupun turut menikmati keindahan pagi itu. Salah satu senior berteriak. "Hey lihat, itu puncak gunung Sindoro Sumbing. Sudah pernah kesana belum?" Tanyanya kepadaku.
"Belum. Dan gak akan pernah ke sana" Kataku menahan jengkel.
"Lho kenapa...?" Tanyanya heran.
"Naik gunung apaan, aku tadi kok ditinggal sendirian? Kalau aku ketemu macan gimana?" Kataku dengan sedikit mendelik. Eh dia malah ketawa.
"Hahaha... kamu kan galak abis. Macannya pasti takutlah ama kamu. Buktinya gak ada macan yang nemuin kamu kan?" Katanya sambil tertawa terpingkal-pingkal.
Sementara aku masih cemberut menahan rasa jengkelku. Saat itulah rombongan berikutnya mulai bermunculan meramaikan suasana pagi itu. Aku mulai menaiki bebatuan yang gersang tanpa tumbuhan.
"Non berhenti, jangan tinggi-tinggi, ntar kamu diterbangin angin." Kata salah seorang alumni yang sudah kuanggap seperti kakakku sendiri. Dia pun menyusulku dan duduk di sebelahku. Rambutnya yang panjang berantakan dimainkan angin yang bertiup cukup kencang.
"Kang, sini rambutnya tak rapiin" Kataku sambil melangkah dan duduk di belakangnya.
Kedua tanganku mulai membagi rambutnya menjadi dua bagian, lalu kuikat dengan menggunakan syal hijau miliknya. Teman-teman yang melihat spontan tertawa melihat pria gondrong dipita dua. Langsung saja salah satu dari mereka mengabadikan moment itu dengan kameranya.
Waktunya kembali ke basecamp di post satu. Semua beranjak meninggalkan puncak gunung Slamet. Semua bahagia, semua bernyanyi penuh ceria. Sementara aku menikmati suasana hatiku sendiri. Kini giliranku meninggalkan teman-temanku. Dengan cepat aku melangkah turun. Aku berlari di antara jalan setapak, dan aku duduk meluncur di atas rumput yang tumbuh menurun. Dua orang senior tersengal-sengal mengejarku, menyuruhku berhenti dan memperlambat langkahku. Namun aku tidak peduli aku terus meluncur layaknya anak kecil yang sedang bermain di playground.
Setelah semua sampai di basecamp kedua senior itu pun menghampiriku "Wuaduh non, kamu tuh, mentang-mentang kecil main pelorotan mulu. Kalau kamu jatuh ke jurang gimana?" Tanyanya padaku.
Dengan santai kujawab "Buktinya gak jatuh kan? suruh siapa semalam ninggalin aku sendirian?" Akhirnya semua ketawa.
"Ooo.... ngambek neh ceritanya, makanya main pelorotan?" Sambil gemes mengobrak-abrik rambutku.
*** Memory pendakian-I ke gunung Slamet ^_^
Oleh: Khasanah Roudhatul Jannah (Profile)
Selasa, 26 April 2011
Lukamu adalah Siksa Batinku

Mataku tertuju pada salah satu status sahabatku malam itu, ini anak kok tiba-tiba puitis?
Mr. XX: Kan kubiarkan ruang hampa di dalam hidupku...
Moes Arsyil Ramadhan Afrilla: Sok puitiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiis loe.
Mr.XX: Gw lagi nyanyi lo tau ga tu judulnya gw lupa, "Kan kubiarkan ruang hampa di dalam hidupku bila aq harus mencintai dst" lo tau ga?
Moes Arsyil Ramadhan Afrilla: Cinta sejati by Element, betul kasih bonus :D
Mr. XX: Salah! bego bgt lo ah
Moes Arsyil Ramadhan Afrilla: Salah dikit aja, demo loe sob xixi maaf, kejaaam loe
Mr. XX: Hidup aja ma gw kejam, gw harus kejam
Moes Arsyil Ramadhan Afrilla: Kecuali ma w jangaaan wkwkwk
Mr. XX: Ga ada pengecualian dlm hidup gw
Dan percakapan kami lanjutkan di chat,
"Woyyy belum tidur loe?" Tanyanya
"Jiaaah salam dulu baru nanya" Balasku, obrolan kami mengalir bagai air bening di anak sungai, aku minta ijin untuk menulis tentang kisahnya, 7 tahun pacaran akhirnya hubungannya kandas. Meninggalkan goresan luka, meninggalkan cerita sumbang dalam luka yang mungkin nyeri yang ia rasakan hingga kini, sampai ia berucap, "Gw gak pernah percaya pada yang namanya cinta sejati, kecuali cinta Tuhan pada umatNYA, cinta ibu pada anaknya"
"Dubraxx artinya, selama ini kasih sayang gw sebagai sahabat juga dianggap palsu? hmmmm sungguh terlalu sobat,hehehe"
Terkutuklah
Cinta yang berderak-derak di pangkalan telinga
Mengingang laju kumuh
Bersenggama hina kau bertanya pada sengsara
Sepasang sekoci berlumur lumut
Membatu bersama karang
Daripada kau terjungkal ke lautan
Mari kita eja rasa dengan semestinya
Terkutuklah
Cinta ditambah cinta menjadi sampah
Terciumi sengatan membesarkan arwah di dalam kubur
Sungguh, kuncilah hati sebelum kau terbawa digiling kunyah
Peradaban kau gilir dengan martabat sumbang
Kau gulai mentah dalam belanga kubangan air mata
Mendidih jantung kesumat menatap mata tersumpal bara
Jangan cinta kau ucap perlahan pada yang lapar di pesisir hujan
Merajai iblis dalam sumpah serapah memutar masa
Duh, sampai setega ini cinta mereka permainkan
Terkadang gadai sudah rasa
Dalam meja perjamuan bersama pimpinan setan
Gerhanakah hatimu kini? hingga saat kutawarkan menjemput purnama kau merantai langkah, mengunci mati rasa, membekukan seluruh sendi gerak tubuhmu, menulikan telingamu, hingga aku tak lagi berhak berkata apa-apa, lakukan apa yang kubisa demi sebentuk senyum kembali, tawa canda yang warnai hari, lukiskan kisah indah hari muda kita,mencatat dalam ingatan batas manusia. Sobat jangan hakimi aku seperti dia, aku tidak ikutan meninggalkanmu, aku masih ingin bercerita banyak padamu, saat gundah dan resah menyapa hariku atau sebaliknya, kuingin kita selalu bisa berbagi cerita, agar cerita dusta tak terpendam mati dan membusuknya hati.
Gerhanamu yang kuandai menjadi kebuntuan, pekat dan menampar-nampar, keduabelah tangan yang mengarah ke mukaku sendiri, sudikah waktu memutar lagi saat purnamamu dulu harapku, kuingin selau kau bahagia sobat, harap kembalilah cinta menyapamu, kau tau? aku dirundung cemas yang menyiksa, ketahuilah sahabatku, selayaknya manusia, hidup adalah bergerak dan tumbuh, ada duka dan tawa, setelah itu mati, sebab mati adalah keniscayaan yang pasti, tapi sebelum maut menjemput, ijinkan aku memberi nilai guna untuk sesama, ijinkan aku mengubah gerhana jadi purnama, ijinkan aku tetap bersamamu mencari cahaya, agar tiada sesalku nanti, jika aku mendahuluimu menghadapNya. Tidak ada kekejaman yang ingin kuberi, yang kurasa, lukamu akan jadi siksa batinku jika kubiarkan kau merintih sendiri menahan nyerinya, karena kujuga tau, jauh di lubuk hatimu, hatimu terlalu indah untuk menyimpan luka, merasa sendiri, mendustai hati yang masih butuh tempat berbagi.
Oleh: Moes Arsyil Ramadhan Afrilla (Profile)
Minggu, 24 April 2011
Jeritan Histeris Tengah Malam

Mini bus yang membawaku dan rombongan teman-teman akhirnya sampai juga pada tempat tujuan, yaitu Pantai Ayah. Teman-teman segera berhamburan keluar dari mini bus yang kami tumpangi dari depan sekolahku tadi. Setelah itu kami pun segera mencari lokasi yang tepat untuk mendirikan tenda. Sesuai dengan kesepakatan bersama akhirnya kami mendirikan tenda di dekat selokan kecil berukuran lebar sekitar 50 cm.. Namun selokan ini mengalirkan air yang cukup jernih yang bisa digunakan untuk mencuci atau untuk dimasak sebagai air minum.
Hari ini adalah untuk pertama kalinya aku ikut camping di pantai. Teman-teman nampak sibuk mendirikan tenda. Camping kali ini adalah camping gabungan bersama SMA-SMA se-kabupaten Banyumas. Tujuan camping kali ini tidak hanya sekedar untuk refreshing, tapi karena kami semua ingin mencoba mendaki tebing karang yang konon kabarnya ada di sekitar bukit dekat pantai tempat kami mendirikan tenda.
Aku sibuk membongkar cariel yang berisi berbagai bekal dan peralatan. Setelah semua tenda selesai didirikan, satu persatu teman-teman mulai berhamburan ke arah pantai. Hingga akhirnya tinggallah aku sendiri. Duh... nasib... lagi-lagi aku harus sendirian menjaga sekian banyak tenda.
Setelah hari mulai gelap semua kembali ke camp. Ada yang basah kuyup dan kotor penuh pasir. Ada juga yang membawa ikan dari nelayan setempat. Ikan-ikan itu pun diserahkan padaku setelah dibersihkan sebelumnya. Akhirnya ikan-ikan itu pun aku masak dengan wajan kecilku yang kubawa dari rumah.
"Waduh Non, sempet-sempetnya bawa wajan. Gak rugi deh camping ngajak kamu." Kata salah seorang seniorku.
"Ya iyalah..." kataku singkat sambil menyiapkan segala sesuatunya.
"Apa ini... !" Teriak salah seorang kawan dari dalam tenda yang tepat di belakangku. Aku segera menoleh dan menyorotkan lampu senter ke arah yang dimaksud. Ternyata susu bendera kalengan yang tumpah di atas terpal.
"Waduh siapa sih yang naruh susu di sini, sayang banget neh, gimana neh...?" katanya sambil memandang ke arahku. Tanpa pikir panjang aku segera memindahkan tumpahan susu bendera itu ke wajan yang berisi ikan laut. Kawanku hanya bisa melongo melihat ulahku. Sementara aku hanya nyengir sambil mengisyaratkan padanya untuk diam. Dia pun hanya mengangguk sambil bergidik jijik.
Gak berapa lama kemudian ikan yang kumasak pun matang dengan wangi yang menggoda. Segera aku bagikan kepada teman-teman yang dari tadi sudah menunggu menu makan malam. Dengan cepat mereka menyantap.
"Wah... uenak banget, kok kamu pinter masaknya? bumbunya apa neh?" Tanya salah seorang seniorku.
"Masa enak sih? habiskan dulu, nanti tak kasih tau deh resepnya" Kataku dengan senyum pasti. Dengan cepat hidangan ikan laut pun habis disantap teman-teman.
"Masih ada lagi gak ikannya? aku belum kebagian neh?" Kata salah seorang kawan yang baru datang menikmati indahnya suasana malam di pantai.
"Udah habis. Suruh siapa gak balik-balik, gak tau orang pada kerepotan di sini." Kataku dengan santainya.
"Non, apa resepnya neh?" tanya salah seorang dari mereka.
"Biasa aja kok. Cuma ada tambahan dikit, itu tuh tumpahan susu bendera di terpal itu." Kataku sambil menahan tawa.
"Iya bener tuh, susu bendera yang tumpah tadi dia ciduk pake sendok lalu dimasukkan ke dalam wajan yang buat masak ikan." kata kawanku yang pertama kali menjerit tadi. Akhirnya semua ketawa, lalu kata mereka.
"Gak apa-apa, vitamin." ^_^
Setelah semua selesai akhirnya aku dan teman-temanku segera membersihkan peralatan masak dan peralatan makan tadi. Malam terus beranjak mengukir gelap di antara deburan ombak di pantai. Malam ini memang tidak ada acara khusus. Malam ini semua diminta untuk istirahat penuh karena besok pagi kami akan diajak untuk mendaki tebing karang yang dimaksud. Ada yang menikmati malam itu dengan jalan-jalan di pantai bersama kekasih hatinya, ada yang hanya duduk-duduk di kursi bambu yang telah tersedia di bawah pohon waru. Ada juga yang hanya duduk di dalam tenda sambil bermain kartu poker.
Sementara aku hanya duduk-duduk di pinggir selokan bersama seniorku, mbak Pipit yang sedang asyik ngobrol dengan seorang kawannya dari Cilacap. Mereka asyik diskusi masalah seputar pengalaman camping bersama teman-teman. Sesekali aku tersenyum sebagai respon aku ikut mendengarkan obrolan mereka. Sementara itu aku asyik memainkan lilin-lilin kecil yang menjadi penerang kami saat itu. Kedua kakiku kumasukkan ke dalam selokan yang mengalirkan air jernih itu. Aku asyik menikmati aliran airnya yang bening. Sambil sesekali mendekatkan lilin ke dalam selokan, mencoba menangkap ikan-ikan kecil yang berenang kesana-kemari.
Malam kian larut, entah kenapa kurasakan kejenuhan yang tidak seperti biasanya. Tiba-tiba aku ingin menjerit. Akupun menyampaikan maksudku pada mbak Pipit.
"Mbak, aku ingin menjerit sepuas-puasnya."
Dengan santai dan terus menatapku dia pun berkata, "Ya sudah menjeritlah." Tanpa menunggu lebih lama lagi, aku pun segera menjerit.
"Aaaaaaaaaaaaaaaaa........" Sebuah jeritan panjangku yang membuat kaget seketika.
"Aaaaaaaaaaaaaaaaaa......" Jeritan panjang susulan dilanjut dengan jerit tangisku.
Seketika itu juga, semua penghuni tenda berhamburan keluar mencari datangnya suara. Semua mendekat ke arahku, dan bertanya kepada mbak Pipit yang tenang-tenang saja duduk di sebelahku. Mbak Pipit pun menjawab kebingungan teman-teman,
"Tidak ada apa-apa, dia cuma pengen njerit aja." Akhirnya semua mengerti dan kembali ke tenda masing-masing.
Sementara itu aku puas-puasin menangis, hingga hatiku tenang kembali. Setelah itu aku segera membasuh wajahku yang berlumuran air mata dengan kesejukan air selokan di malam itu. Lega rasanya dan lapar ^_^
Tenagaku habis buat menjerit dan nangis histeris, hingga membuat perutku terasa lapar. Akhirnya aku pun hanya makan indomie goreng yang kuremas lalu kucampur bumbunya dan makan begitu saja. Maklum, malas masak. ^_^
Malam kian larut dan dingin, kami pun kembali ke tenda untuk istirahat barang sejenak. Temannya mbak Pipit pun segera pulang ke rumahnya yang kabarnya tak jauh dari pantai Ayah ini. ternyata teman-teman di dalam tenda posisi tidurnya seperti udang diaduk dalam penggorengan, amburadul. Tidak ada posisi yang benar. Mau tidak mau harus nyelip di pinggiran.
Keesokan paginya setelah semua membersihkan diri, kami segera berjalan meninggalkan camp dan menuju tebing karang yang dimaksud. Pak Lippo selaku pelatih olah raga alam bebas ini tiba-tiba telah merangkul pundakku dan bertanya menyelidik.
"Kamu kenapa? kok njerit histeris gitu? Apa ada masalah?" Tanyanya serius. Aku hanya menggeleng sambil tersenyum, dan meyakinkan bahwa tidak ada masalah apapun.
Lalu beliau menepuk-nepuk pundakku, dan katanya, "Ya sudah kalau gak ada masalah, berarti siap dunk latihan hari ini?" Tanyanya sambil tersenyum.
"Siap dunk...pak..." jawabku pasti.
Setelah itu Pak Lippo asyik ngobrol dengan rekannya yang juga ahli di bidang Rock Climbing. Dan kami pun mulai meniti jalan di perbukitan yang menuju ke arah tebing karang. Nampaknya lokasi yang di maksud cukup jauh juga, kami harus melewati perbukitan yang sedikit terjal dan berliku. Beruntung ada kawan yang membawa radio kecil. Sebuah lagu gubahan pun melantun di antara tawa dan canda teman-teman.
Akhirnya kami semua sampai di lokasi tebing karang. Para senior yang bertugas segera menyiapkan segala peralatan. Mulai dari tali karmentel, karabinner, discender, tali prusik, dan webbing. Dua pemanjat nampak membuat tali simpul di puncak tebing karang. Sementara aku dan beberapa teman memasang webbing di badan masing-masing. Untuk permulaan, seorang anak muda yang pernah ikut kejuaraan nasional menunjukkan kebolehannya dalam tehnik memanjat tebing. Kami memperhatikan dengan seksama. Kemudian satu persatu pun mulai mencoba memanjat tebing karang itu.
Tak terasa waktu cepat berlalu, saatnya untuk kembali ke camp di pinggir pantai. Semua tampak happy dan bernyanyi riang menyusuri jalan di perbukitan yang akhirnya mengantar kami ke perkemahan.
*** Memory Di Pantai Ayah bersama para pecinta alam se kab-BMS*** ^_^
Oleh: Khasanah Roudhatul Jannah (Profile)
Jumat, 22 April 2011
Di Bawah Kolong Langit

Dua tahun silam, ternyata ada yang lebih indah dari pada langit yang menggantungkan tiangnya pada Bumi. Langit sekretariat BEM dengan segala bintangnya, tanpa pola rasi, tanpa nama. Tergambar begitu saja seperti aliran sungai, tapi buat apa semua itu? Jika beragam ide dan persuadaraan telah beberapa kali terbentuk di bawah naungannya. Deg! Siang itu saya hanya mendongak ke atas, menghitung tanpa arah gambar putih yang berbetuk bintang. Sayang yang bernama hati itu tidak bercahaya seperti bintangnya, tapi gulita seperti warna langit malam, semua orang mengatakan pusing, sebagian larut dalam kecanggihan Mr. Comp dan Mrs. Lepi, sisanya disibukkan dengan beragam list undangan, dan selebihnya entah kabur kemana?
Seketika, semangat yang menggebu-gebu itu runtuh di hadapan perasaan yang tidak mengenakkan ini. Tapi benarkah hari itu akan berlalu dengan kesan yang menyedihkan dan tidak menyenangkan? saya sesendiri ini, masa?
Pasca gempa di bulan Ramadhan, Rabu 2 September 2009
At 3.40 PM, SMS masuk dari Kadiv PDD: "Mendesak dan memaksa, ada bubar LOPE (baca : Logstran PDD) di GWW, kumpul jam 5.00 PM" Perasaan yang belum reda setelah terjadinya gempa dan paksaan deadline yang harus dibikin, malah harus bengong dengan paksaan tersebut.
"What the? apa-apaan Theeeeeen? buka bareng puasa dadakan nyaris tanpa persiapan?"
"heh?"
**
Bila kita dapat memahami
Matahari menemani
Kita dalam kehangatan
Hingga sang rembulan bersenandung
Meninabobokan seisi dunia
Dalam lelap setia
Tanpa terpaksa
Bila kau dapat mengerti
Sahabat adalah setia
Dalam suka dan duka
Kau kan dapat berbagi rasa
Untuknya
Begitulah seharusnya
Jalani kehidupan
Setia… setia… setia
Dan tanpa terpaksa
Mengapa bintang bersinar
Mengapa air mengalir
Mengapa dunia berputar
Lihat segalanya
Lebih dekat
Dan kau akan mengerti
(OST. Petualangan Sherina)
Lirik lagu sherina, pengingat sebuah kejadian istimewa. Seharusnya yang sejak lama saya lakukan, melihat segala sesuatu lebih dekat, dari hati-kehati, bagaimana untuk menjadi orang yang lebih dari sekedar bersimpati, tapi berempati, seperti malam itu.
"Niooooo, paraaaaah Gue ga dapet kabar kalo LOPE kumpul!!!" Dengan wajah geram, Thi menodong Nio.
"Seriusan, udah Gue kirim koq jarkomnya ke semua anak Logstran" yang bernama Nio membela diri.
"Bohoooooong, buktinya Gue ga dapet, jahat Lu"
"Lu dateng kan? itu berarti Lu dapet kabar kan?" Nio tetep ngeyel dan bersikeras.
"Gue dapet kabar dari Dhin, bukan dari Lu" Bales Thi, tidak mau kalah.
"Beneran!!! perasaan udah deh, pas tadi gempa Gue kirim SMS jarkom ke semua anak logstran, pas lagi berasa goyang-goyang. Masa iya ga nyampe sih?" Penjelasan Nio barusan seketika bikin kita semua CENGO!!
"Nioooooooooooooooooo"
**
Bagusnya segala pertikaian selesai sudah, tergantikan dengan suasana buka bareng bersembilan orang. Duduk manis membentuk lingkaran di taman GWW (Graha Widya Wisuda), eh? taman? hanya sepetak tanah yang berkarpet rumput dengan satu lampu bisakah dinamakan taman? bahkan tidak layak sebenarnya dijadikan tempat tongkrongan seperti ini. Mungkin ini adalah pelampiasan, efek dari gagalnya para panitia Ospek penanggung jawab tempat dan dekorasi (baca: kita para LOPE) menyewa GWW beberapa bulan lalu.
"Ga salahkan kita menikmati GWW seperti ini, sesekali. hahaha"
Entah apa yang ada dipikiran orang yang lalu lalang di depan GWW, mungkin sebagian ada yang menganggap bahwa kita adalah orang-orang yang kurang kerjaan, tapi Bodoh amat, Everything is Ok. Para anak-anak LOPE justru semakin menikmati hembusan angin malam itu, bau rumput yang mulai berembun, penerangan satu lampu di taman GWW semakin membuat malam itu terasa cocok untuk membuat sebuah pengakuan. Siapa yang memulai itu tidak penting, tiba-tiba semuanya terlontar ringan, kata demi kata, berbagai cerita yang mengalir begitu saja, saling menjadi tempat sampah satu sama lain, menimbulkan beragam inspirasi yang tak terduga. Spontan dan tanpa terencana sebelumnya,
"So, botol air mineral ini kita puter. Siapa yang kena kepalanya barati dia harus siap nyeritain siapa dirinya"
"Juga harus siap menerima pertanyaan apapun"
"Sejujur-jujurnya!!"
"Setuju?"
"Siaaaaaap!!!!"'
Lalu mengalirlah banyak cerita, tanpa paksaan dari siapapun, dan saya hanya mampu ber "O" dalam hati. Beginikah sebenarnya sosok sahabat-sahabat saya? sungguh tidak terduga, mengawali bagaimana harusnya memahami, terkadang saya hanya bisa menyimpulkan dari apa yang saya lihat, tanpa menyediakan waktu untuk mendengar apa kata hati yang sebenarnya. Andai, andai saya bisa melakukan terhadap semua sahabat-sahabat saya, andai saya bisa tau apa yang ada dalam pikiran mereka, supaya kedepannya kita bisa melangkah bersama, tidak ada yang di depan, tidak ada yang dibelakang tapi hanyalah kita yang beriringan.
Ini bukan sekedar pembelajaran tentang karakter manusia, ini tentang bagaimana cara bersikap, menyikapi banyak sifat, menghadapi sikap dari berbagai karakter. Tentang bagaimana bersikap dan menyikapi segala sesuatu dengan bijak. Tidak lantas memvonis seseorang dengan sembarangan, menjadi yang paling sok tahu. Tidak, pelajaran malam itu lebih dari sekedar tahu tapi juga memahami dan benar-benar mengerti.
Menyapu pandangan ke arah langit, mendongak sekilas sambil mendengarkah banyak kisah. Bersih dan pekat, tanpa Bintang ataupun Bulan, satu-satunya sinar paling terang hanyalah berasal dari lampu taman. Tapi bukan itu, Bintang-bintang di langit kini telah menjelma menjadi delapan orang sahabat dari pengakuan malam ini. Bersinar dari permukaan Bumi, indah. Sangat indah.
"It was amazing moment with you all, i felt it. Seriously"
Dan saya benar-benar mengingatnya dengan baik, sebaik-baiknya dalam ingatan. Inilah pelajaran itu, dari sifat dan karakter kalian, dari apa yang saya rekam dalam pikiran dan hati.
- Thi yang menamakan dirinya sebagai bunglon, berusaha menempati diri di manapun dia berada, benar-benar belajar membaur tanpa harus melebur.
"Mungkin karena dari dulu Gue dibiasain jadi sulung yang harus mandiri, so Gue harus bisa cepat beradaptasi dengan banyak hal"
- Za yang ikhlas melakukan sesuatu buat orang lain, deuhh. Tanpa keluhan ataupun perasaan jengkel karena sering direpotkan.
"Gue seneng kalo ngeliat orang lain seneng, jadi Gue sedikitpun ga ngerasa terbebani"
- Cid yang ceria dan tegar.
"Gue cuma berusaha menghadapi semuanya sebisa Gue, hingga disuatu hari nanti Gue bisa ngebuktiin banyak hal"
- Theen yang hidupnya penuh dengan perencanaan, ada jangka pendek, jangka menengah, juga jangka panjang. Lihat saja notes hijau yang selalu ada dalam tasnya.
"Gue pengen jadi pengusaha cokelat, suatu saat nama brandnya adalah "Prasada""
- Nio yang dewasa tapi juga humoris.
"Gue emang suka bercanda dari dulu, tapi tetep harus bijak kan? hahaha"
- Dhin yang menyadari, bahwa di sini kita harus belajar menerima, kurang lebihnya menahan ego.
"Pertama kalinya Aku harus jauh dari rumah, Aku beneran harus belajar untuk ngga egois dalam hal apapun"
- El yang bisa melihat segala sesuatu dengan bijak.
"Sekarang bukannya saatnya lagi dalam tahap pencarian jati diri, tapi kita harus mampu menyimpulkan sendiri bagaimana pribadi kita melalui sikap kita terhadap orang lain, right?"
- Cha yang lebih suka menjadi penggerak. Menjadi katalis di manapun dia berada.
"Karena Aku suka berteman, suka dengan keramaian dan juga kebersamaan"
**
Dan hanya satu kesan,
"Pembelajaran di kolong langit saat itu begitu berharga, terima kasih LOPEkuuu"
Oleh: Ana Falasthien Tahta Alfina (Profile)
Selasa, 19 April 2011
Jeda Waktu untuk Ibu

Kutatapkan mata hatiku pada penjuru waktu, kulampiaskan tanya jiwaku pada yang kujumpai, ada rasa kian meronta, karena asa adalah hidupnya jiwaku. Langkah demi langkah ayunan hatiku berpijak, menelusuri gugusan masa hidupku, kurasakan getar-getar penuh misteri, menyusuri jalan berpasir. Kerikil bahkan kadang berbatu. Angan menggapai namun tiada membekas, hampa sebuah raihan kandas dalam bidikan, sebuah perang sunyi di belantara gundahnya hati.
"Bunda gw kritis mohon doanya"
Sebuah pesan masuk yang dikirim salah seorang sahabat baruku, aku termengu miembacanya, singkat memang kalimatnya, tapi kata mengandung sejuta makna, ada kegundahan, kekhawatiran, pengharapan, dan kecemasan terangkum di sana. Kuletakan telepon genggamku, saat kucoba menelepon nomor dia, namun tidak aktif. Kulihat laptopku, dia sedang online. Kucoba untuk memberi support dengan sejuta kata (sok bijak) yang kupilih, lumayan banyak ucap kulemparkan, jawabannya?
"Gw gak bisa mikir!" deggg...biasanya aku akan langsung meninggalkan obrolan seperti itu, tapi kali ini aku bertahan, semoga dia bisa sedikit tenang dengan membaca kata kataku kembali, tapi jawabannya tetap sama!
"Gw gak bisa mikir, gw belum siap menerima kabar terburuk,makanya HP gw matiin!"
Kugapai tiada kudapat, bak peluru tiada bermusuh, sunyi di medan lagaku, sepertinya rasa ini adalah perjalanan panjang, sepanjang keinginanku untuk berbagi beban, menenangkan kalutnya, namun jarak terbantang jutaan kilo, tak mungkin kutempuh perjalanan dalam sekejap, aku terhenyak. Haruskah keadaan ini dia lalui seorang diri, diam termenung berteman kalut? hingga rasaku habis merenungi penjuru waktu, yang hanya terpena di hati, maafkan aku sahabatku, hanya doa tulus terikhlas yang sanggup kulafalkan, semoga bundamu diberi kesembuhan.
Halilintar menggelegar, daun-daun berguguran, langit biru menghilang, burung-burung tinggalkan sarang, rintik hujan berjatuhan, pohon tumbang tercabut dari akarnya, awan hitam semakin mengambang, kulangkahkan kaki menuju cakrawala insyaf dan sadar atas khilafku, ya Rabb ampuni aku, betapa selama ini aku terlena, betapa selama ini begitu sedikit kebahagiaan yang kuberi pada ibuku, padahal begitu banyak waktu dan ruang untukku bisa mengukir senyum di bibirnya, justru kusiakan kesempatan, haruskah menunggu saat dia terbaring tak berdaya baru kubersimpuh dan bersujud memohon untuknya pada Dia? Ah bunda anakmu tak pernah berniat durhaka, tapi kerasnya kehidupan yang penuh dengan tantangan meminta tanggung jawab waktu padaku untuk berjarak denganmu, "Ibu maafkan aku"
Ibu adalah kata tersejuk yang dilantunkan oleh bibir bibir manusia, dan "Ibuku" merupakan sebutan terindah, kata yang semerbak cinta dan impian, manis dan syahdu yang memancar dari kedalaman jiwa, ibu adalah keabadian bagi semua wujud, penuh cinta dan kedamaian.
Ceritakan kepadaku tentang pedihnya kehilangan, yang terbang di atas senja merah, yang menyisakan ngilu yang menikam di dada,dalam derap waktu yang bergegas, agar segera dapat kubaluri hatimu, dengan sejuk bening tulusnya sayangku. Ceritakan padaku tentang perihnya pengorbanan yang membakar habis segenap asamu dan meninggalkan sepotong lara yang mengendap di kalbu, agar kubuatkan rumah di atas awan biru tepat di puncak larik pelangi yang akan kubangun dari setiap desir angin rindu, tapi jangan pernah lagi kudengar sesal bakti pada ibu yang terlambat kita sadari, karena aku tidak pernah bisa berucap apa-apa.
Dalam jeda sesaat mataku menyapu sekeliling ruang kamarku, yang kumiliki kini? pernahkan ayah dan ibu meminta apa apa demi kebahagiaan mereka?t ak pernah kudengar keluh atas sikapku yang penuh khilaf, yang mereka tanya "Apa kau baik saja di sana nak?" dan kudengar nada bahagia saat kubilang aku bahagia, Tuhan jaga selalu kedua orang tuaku, kuikhlaskan semua sisa waktuku, jika mereka meminta baktiku kembali di sampingnya, segunung emas takkan sanggup lunasi jasa seorang bunda.
16/04/2011, 11:20PM
Inspirasi, SMS seorang sahabat, semoga ibumu lekas sembuh, semoga Allah meringankan dan beri terbaik untuk ibumu, amien.
Oleh: Moes Arsyil Ramadhan Afrilla (Profile)
Senin, 18 April 2011
Rembulan pun Ikut Takjub di Porosnya

Malam disinari rembulan di sudut langit, terlihat begitu berkesan. Lalu lalang awan hitam mewarnai sang rembulan. Desiran angin khas terasa menyisir sarung yang kupakai. Lambat laun kumulai suka dengan nyanyian alam ini. Musim kemarau mungkin akan melongok manusia yang tinggal di negri Jamrud Khatulistiwa ini, terbukti angin dengan kecepatan tinggi kadang mewarnai pelataran mushalla mungilku, sehingga debu dan sampah kadang beritikaf khusu di mushallaku itu. Namun, aku suka, karena dapat menyaksikan fenomena alam yang indah. Suara gesekan daun membahana, ranting bertabrakan dengan riangnya, sampah plastik bergoyang menjingkrak di alam semesta, membuat suasana begitu riuh rendah dan mempesona.
Malam itu terasa begitu istimewa, setelah kumengajar mengaji di mushalla mungilku itu, aku bergegas pulang, setapak demi setapak kulalui di jalan yang bergelombang dan agak becek, tiba-tiba dalam perjalanan.
Teng-teng-teng-teng
Bunyi itu sedikit mengagetkanku. Bunyi yang tepat bersumber dari belakangku. Aku tahu, bunyi itu akibat tumbukan antara mangkuk dengan sendok. Bunyi yang seakan menebas kesunyian malam yang gelap, seperti tebasan suara para kiyai yang merontokkan para durjana yang bergelimang dosa. Bunyi itu pun yang mampu mengalihkan pandanganku ke belakang. Aku melihatnya, dan ternyata seorang bapak tua yang sedang memikul harapan rezeki dipundaknya yang mulai rapuh dan lusuh itu. Ya, seorang bapak tua yang berjualan sekoteng.
Jalannya begitu semangat sekali tak ada rasa lelah yang nampak, tak menghiraukan beban yang berada dipundaknya. Dengan topi butut yang berada di kepalanya, sembari tangan kanannya mengetuk-ngetuk sendok ke mangkok sebagai alarm khas penjual sekoteng. Yang aku tahu, beliau berumur lebih dari lima puluh tahun, hal itu tampak dengan banyaknya guratan dan rambut putih yang mengeroyok seluruh tubuhnya
“De, sekoteng?” dia menawariku dengan hangat sambil matanya yang sayu menatapku sedikit tajam.
“Oh… ya pak, boleh, satu mangkuk ya pak” kubalas sorotan matanya dengan senyumanku yang ringan. Lalu ia pun tersenyum, sambil handuk yang membelenggu lehernya diusapkan ke jidatnya yang banjir dengan peluh keringat.
Dengan sergap, bapak tua itu mengambil mangkuk, dan meramu sekoteng agar enak di makan olehku. Aku sempat tersenyum dalam hati, di tengah perjalanan kumenemukan seorang yang membuatku takjub, walaupun kuharus berhenti sejenak untuk memakan sekotengnya. Entah syndrome apa yang bergelanyut dalam hatiku, semenjak aku mengenal dunia dengan segala kejadian-kejadian yang membuatku berpikir, aku sering sekali merasa takjub dengan orang-orang yang membanting tulang seperti bapak tua yang satu ini, dahulu aku sering takjub dengan tukang becak, tukang bakso, tukang kuli, sampai tukang penjual areng. Aku salut dengan sosok-sosok mereka, bahkan tak jarang pula aku malu dengan kegigihan mereka dalam mencari rezeki di dunia ini sebagai rasa bersyukur kepada Tuhan.
“Pak, dari mana aslinya?” kumulai membuka pembicaraan agar malam yang sunyi itu terhampiri dengan kalimat silaturahmi.
“Dari Ciamis de, klo ade sendiri dari mana aslinya” Persis seperti asal daerahnya, logat bahasa sunda menempel lekat dalam lidahnya, seperti biasa orang sunda selalu menghadirkan keramahan dan kesopanan dari cara bertutur bahasa.
“Saya dari Cirebon pak, tapi sudah lama di Bekasi, bapak dari jam berapa jualan pak?” kucoba melanjutkan wawancaraku dengan bapak tua ini. Aku ingin menyerap ilmu kehidupan darinya dengan pertanyaan-pertanyaanku. Kumelihat wajahnya merunduk sambil terlihat malu-malu menjawab pertanyanku yang terlihat simple.
“Dari jam 4 sore de” jawabnya singkat
“Oh… terus sudah berapa yang beli pak?” kucoba bertanya yang sedikit rahasia, maklum ingin tau dan mengerti bagaiamana perjuangan hidupnya.
“Mmm… Alhamdulillah sudah dua yang beli, ade orang yang ketiga yang membeli sekoteng saya” senyumnya kembali lepas, sambil merunduk dan memberikan semangkuk sekoteng kepadaku.
Ya Allah… dari jam 4 sore hingga kini jam 9 malam ia baru mendapatkan pelanggan tiga. Namun, bapak tua ini masih berkata “Alhamdulillah”, tanpa ada kata mengeluh sedikit pun. Raut wajahnya yang tampak terlihat bahwa bapak tua ini sangat ikhlas dengan takdir hidupnya saat ini. Sekali-kali kumelihatnya saat kumenikmati sekoteng, tampak ia membereskan peralatan yang sudah dipakai, dan kadang ia melepas keletihannya dengan menghirup udara dalam-dalam.
Kawan, lihatlah bapak tua ini yang sanggup mengarungi bukit kehidupan yang kadang tak selamanya indah. Kadang pula bukit membuat orang merasa was-was, dan tak banyak orang yang tergelincir ke dalam kawah yang mengerikan. Itu lah kehidupan Kawan, laksana berjalan di ujung bukit, indah namun sering kali rintangan menghampiri. Dan hanya orang yang gigih dan kuatlah yang sampai di stasiun keindahan yang sejati. Orang yang kuat bukanlah orang yang bisa mengangkat berton-ton besi, atau bukan juga orang yang pasrah yang mau mengangkat beban penderitaan kehidupannya, namun yang kupahami orang yang kuat adalah orang yang seperti bapak tua ini, yakni yang menjalankan kehidupannya tanpa mengeluh, bahkan bersyukur dan penuh jiwa kesabaran dan ketawakalan, inilah kesatria sejati Kawan!
Awan mulai menyingkir di pelukan rembulan, sehingga membuat rembulan pun melotot dengan cahaya yang menawannya, saat kumenatap ke langit-langit tampak rembulan tersenyum, senyuman rembulan itu kuyakin dibingkiskan kepada bapak tua itu, rembulan rupanya bangga dengan bapak penjual sekoteng ini. Jarang dan bahkan langka orang yang seperti ini, sehingga rembulan pun ikut takjub di porosnya.
Kusodorkan uang untuk membayar satu mangkuk sekoteng, ucapan terimakasih lah yang terucap dari mulutnya yang sunyi. Hanya sebuah doa yang bisa kupersembahkan kepadanya, doa yang kuungkapkan dalam relung hatiku yang terdalam, doa sebagai makhluk Allah yang penuh dengan pengharapan, dan doa dari hamba yang lemah dan penuh dosa ini, “Ya Tuhan, kutau takdirMu adalah keindahan, semua orang akan berjalan dengan takdirMu yang kadang membuat orang murka, senang, maupun bahagia, namun yang pasti Tuhan, bapak tua penjual sekoteng ini menjadi saksinya bahwa ia amat bangga dalam mengikuti takdirMu, maka kumengharapkan kepadaMu agar Engkau selalu memberi ketabahan hati dan kekuatan jiwa untuk selalu tersenyum dalam rentetan takdirMu, amin”.
Oleh: Adi Nurseha Saduki (Profile)
Jumat, 01 April 2011
Biarkan Embun Pagi Mengering

Kabut mulai turun dari lereng-lereng bukit kerinduan, lalu berkelana demi mencari jawab atas tanya, sampai di antara riak-riak pelangi. Mentari mulai mencair, angin ikut membeku. Kicauanku lenyap tak terdengar, benarkah aku yang akan menghilang? demi waktu yang kuhabiskan tanpa sia-sia, demi genggaman yang ingin sesaat kulepaskan, demi persahabatan kita, andai kau rasakan apa yang kurasakan, tetap tegar, tetap bersama, jangan kau pergi lagi.
Apakah setengah dari hati ini telah mati, hingga saat kau berucap"Jujur aku kecewa padamu, maafkan aku jika kusalah" Aku membutakan mataku, aku menulikan telingaku, mendustai nurani, hanya demi ego diri yang ingin tetap pergi? dan kubiarkan kesombongan ini membawaku di telan bumi, terlupa pada mereka yang selalu jadi lentera-lentera malam yang tenang, mutiara yang bersinar, dengan ketulusan yang tetap terjaga.
Maafkan aku sahabat jika tajam kataku sempat menyobek bahkan terkoyak hatimu, lupakan jika aku berkata sempat ingin pergi dan akhiri. Aku ditampar malu oleh lentera yang selalu tepati janji pada senja, walau sangkalku tak selamanya bintang berkedip lalu berpijar, mungkin sudah suratan burung-burung terbang ke utara demi menangkis kutukan sang peri pagi hari, mungkin juga begitulah aku yang tak pernah bisa pergi meninggalkan kisah persahabat kita, terlalu indah di kenang, terlalu pedih dilupakan, apalagi jika kau juga tau sobat, betapa Rosa rela online di atas pohon dengan bekal cemilan favoritenya setandan pisang, hanya demi tak putus persahabatan, dan ingin sekedar tau status para sahabat, dan Yopi yang artis itu sesaat jadi ingusan. Adi yang berubah SMS duluan hanya untuk bertanya kabar? ah seratus, seribu, sejuta maaf kupinta pada kalian sahabat.
Batu itu keras, tapi akan hancur bila saatnya bertemu dengan besi, dengan massa, gaya, dan momentum tertentu, itu jugalah yang menyebabkan perubahan dari zaman Neolitikum ke zaman logam. Besi itu keras tapi akan meleleh apabila tiba saatnya bertemu dengan keadaan 1.800 C. karena api itu panas, tapi akan padam oleh air, karena air menghilangkan dua dari 3 unsur penyusun api, yaitu panas dan oksigen yang hilang akibat bereaksi dengan uap air. Dan akupun takluk dalam sujud syukur bersabahat dengan kalian yang telah luluh lantakkan angkuh jiwaku.
Kadang kita berharap Tuhan menyibak salah satu tabir rahasianya, seperti matahari yang terbit di timur dan tenggelam di barat, atau seperti waktu yang tiada pernah akan berhenti. Perasaanku akan selalu dekat denganmu sahabatku.
Dalam kesendirian, sekian lama kucoba artikan sebuah arti ungkapan lama"Betapa nilai seseorang sangat terasa, justru ketika ia tiada, dan ketiadaan kalian memberi petunjuk yang amat nyata, betapa rapuh jiwaku dalam kesendirian, dan betapa utuh dalam kebersamaan kita".
Kalian terang yang yang memupuskan batasan dan alasan
Menuntunku menuju kedamaian hati
Menuju tempat yang indah
Di mana kasih selalu tercurah melimpah
Sadarkan aku untuk bangun
Dari ilusi kegelapan
Tanpa rasa gentar dan pergi!!!
Kini kusiap mengikuti terangmu sahabat
Jangan pergi, tunggu aku jika memang ingin
Biarkan jika embun pagi mengering
Aku hanya tau kebersamaan kita indah
I Can Always Make You Smile :)
03/03/2011, wed, 02:55 PM
Oleh: Muslimin (Profile)
Kamis, 31 Maret 2011
Pak RW adalah Ayat KauniyahMu Tuhan

Ini adalah sebuah aksi, revolusi harga mati, demontrasi membabi buta, perang urat syaraf, adu jotos, dan bahkan perang militer. Dan ini pula sebuah rasa, teriakan, histeris, mencekam, naik pitam, murka, kalut, dan ketidakpercayaan. Itulah Kawan fenomena terkini tentang bumi tercinta kita, bumi yang katanya penduduknya selalu mengusung perdamaian dan ketenangan. Namun gonjang-ganjing kerusuhan semakin menguap bagaikan para predator yang kelaparan mencari mangsanya. Coba kita mengintip sejenak tentang revolusi di Timur Tengah, Sudan, Mesir, Tunisia, Yaman, dan yang paling menghebohkan serta menegangkan layaknya melihat perang dunia ke II yakni apa yang terjadi di Libya.
Sudah tau kah kawan!, berapa juta manusia yang terpaksa meninggalkan kewajibannya sebagai seorang ayah, ibu, anak, dan pelajar demi meruntuhkan sang penguasa yang zalim. Berapa ribu orang yang terkapar mati dan tertunduk luka demi menggoyangkan sang pemimpin yang tidak adil. Dan berapa ratus orang yang baik, yang terpaksa bingung harus bersikap apa melihat fenomena lucu tersebut. Ah, jika dikalkulasi sudah banyak yang dirugikan dengan kehadiran satu manusia, yakni Pamimpin Zalim.
Apa yang terjadi? Apakah krisis kepercayaan kepada pemimpin yang melanda di bumi manusia ini? Bukan hanya terjadi di pemerintahan sebuah Negara, bahkan sebuah organisasi yang di bawah pemerintahan pun sampai-sampai terjadi demikian. Contohnya saja baru-baru ini revolusi Persatuan Sepakbola Seluruh Indonesia (PSSI). Aku sebagai pecinta sepakbola nasional merasa heran dengan kejadian tersebut, dan merasa khawatir akan imbas terburuk bagi perkembangan sepakbola Indonesia ke depannya. Lihatlah Nurdin Halid dan para kroninya sepertinya ingin menguasai tahtanya dan enggan meletakan jabatannya, padahal hanya seorang ketua PSSI, bukan Presiden, heran!.
Coba bayangkan, pada zaman dahulu pemimpin adalah jabatan yang ditakuti oleh semua orang, mereka takut akan ketidakamanahannya sebagai pemimpin, bahkan mereka takut bila ada rakyatnya yang kelaparan di ujung desa yang luput dari penglihatannya, sehingga menjadi pemimpin adalah pekerjaan yang sangat sulit, apalagi jika musim berperang tiba, maka pemimpin lah yang terdepan dibarisan pasukan. Namun, tahta pemimpin sekarang sudah menjadi bidadari cantik yang semua orang ingin meminangnya, diperebutkan, bahkan dengan segala cara ia akan dilakukan demi mendapatkan sang bidadari. Bahkan, jika sudah meminang bidadari cantik tersebut maka ia enggan mentalaqnya untuk diserahkan kepada orang lain, padahal sang pemimpin tersebut hanyalah nikah mut’ah, yang terbatas waktunya, maka jangan heran bila adu jotos, kecurangan, money politic, saling hasud, saling menjatuhkan, bahkan genjatan senjata terjadi di mana-mana. Wahai pemimpin yang adil, seharusnya berikan kesempatan kepada orang lain, kepada generasi muda yang memiliki potensi diri untuk mengembangbiakkan bidadari cantik sehingga menjadi kedamaian bagi semua makhluk.
Aku jadi teringat kisah dalam perjalanan kehidupanku. Aku pernah bertemu dengan pemimpin-pemimpin yang hebat di kampungku ini. Salah satunya sebut saja namanya bapak H. Nurossin NH. tapi sering dipanggil Pak Ade atau pak RW, beda-beda tipis dengan namaku (hehehe). Beliau adalah ketua Rukun Warga (RW) di kampungku. Sebelumnya aku tak mengenalnya sama sekali, maklum sudah hampir lebih dari 7 tahun aku meninggalkan kampung halamanku demi memulung ilmu di negri para sihir itu. Aku mulai mengenalnya ketika aku hendak mengadakan sebuah acara Maulid Nabi Besar Muhammad Saw. yang diisi dengan perlombaan tingkat kelurahan dengan judul PRIMA Competition 2011.
Seperti acara-acara keagamaan lainnya, acara Maulid yang akan kuagendakan dengan remaja mushalla ini juga butuh biaya yang tidak sedikit. Sehingga aku dan para remaja lainnya berusaha memeras keringat untuk memohon sumbangan dana ke warga sekitar. Alhamdulillah, dari anggaran yang kita tentukan sekitar 7 juta, bisa terkumpul kurang lebih 4 juta. Walaupun baru terkumpul setengahnya, namun kami optimis mampu mengadakan dua agenda besar itu (Maulid dan perlombaan).
“Assalamualaikum” suara halus membelenggu telingaku, sopan dan penuh dengan ketawadhu’an.
“Waalaikum salam” sahutku, kuingin mengimbangi salam yang penuh keseponan itu dengan jawaban yang lembut pula walaupun tidak sesempurna kelembutan salamnya
Asing wajahnya bagiku. Berpakaian rapih ala orang kantoran, namun tanpa dasi. Warna kuning kemejanya cocok dengan paras wajahnya yang rupawan. Peci yang dikenakan pun tampak seimbang. Tak ada kekurangan yang kulihat. Malah ada kelebihan-kelebihan terutama tentang akhlaknya. Beliau datang secara tiba-tiba ketika aku sedang berbincang-bincang dengan remaja yang lainnya di mushalla mungilku.
“Ust, kenalin, ini adalah ketua RW kita, yang sering saya certain ke ustadz” ujar Ustadz Edi Hamdi, ketua panitia peringatan Maulid dengan sambil memandang ke arahku.
“Oh…iya Pak RW” jawabku seadanya dengan seutas senyum yang menganga di kedua bibirku, jujur ketika itu aku grogi. Bukan apa-apa, memandang wajahnya seperti air yang bersih dan tenang. Tanpa ada raut wajah seorang yang penuh ambisi dan rakus. Yang ada hanyalah aku merasa adem dan nyaman berada di sampingnya. Tatapan matanya pun sungguh membuatku ta’zim kepadanya. Walaupun aku belum menganalnya secara mendalam, namun ketika kumelihatnya seakan aku sudah mengenalnya puluhan tahun yang lalu.
Kami pun mengobrol dengan cantik di mushala mungilku itu. Berbincang-bincang yang cukup lama. Menganai siapa ketua RW sesungguhnya dan juga mengenai persiapan maulid Nabi yang akan kami adakan.
“Saya amat bangga dengan para remaja di mushalla ini yang sangat bersemangat dalam membuat acara semacam ini” ujarnya diplomatis dihadapan para remaja yang kebanyakan masih sekolah SMP dan SMA. Tampak teman-teman remaja menyimak orasi pak RW dengan kerutan dahi dan tatapan mata yang tajam tanda mereka sangat memperhatikan. Entah apa yang membuat mereka terhipnotis dengan ucapannya. Padahal menurutku kata-katanya biasa saja dan sering didengar. Namun ada kewibawaan yang timbul dari setiap petikan katanya, suara yang terlontar lembut seperti sutra yang cantik, tak terlihat kesombongan yang menganga di parasnya, malah yang ada hanyalah sebuah kerendahhatian yang menari-nari di pelupuk matanya.
“Nanti, kalau ada kekurangan dan kebutuhan yang belum terpenuhi, bilang saja ya sama saya, insya Allah saya akan membantu semampunya” lanjutnya, perhatiannya membuat kami tenang. Didukung oleh pemerintahan bukanlah hal yang mudah. Contohnya saja ketika kumengirim proposal ke Pak Kepala Desa dan bertemu dengan kepala desa. Aku ingin meminta bantuan soal piala perlombaan, namun aku sudah disekakmat dengan kata-katanya yang serasa diplomatis.
“Sudah kalian sebar dulu undangan perlombaannya, nanti klo memang responnya banyak, insya Allah akan saya bantu” janjinya ketika itu. Namun apa yang terjadi, ketika undangan sudah disebar, dan respon pun begitu positif, aku pun menagih janjinya. Dan ketika aku datang di kantornya, tanpa basa-basi ia menyodorkan sebuah amplop putih yang berisi lembaran uang kertas yang tak bisa kumenerowong ada berapa isinya. Aku pun tanpa diberi kesempatan untuk berbicara dengannya, semua perbincangan dikuasai olehnya. Aku yang hanya rakyat biasa ingin menagih janjinya, namun mungkin pak kepala desa sibuk sehingga tak memberi kesempatan kepadaku untuk berdialog secara intensif. Alhamdulillah, walaupun tak sesuai dengan janjinya, namun sumbangan itu patut aku syukuri.
Tanggal 20 maret menghiasi kalender laptopku. Acara maulid pun di mulai, diiringi dengan suara kembang api yang menggema di langit-langit membuat terkaget-kaget sekawanan semut dan kumbang. Alhamdulillah, acara maulid pun berjalan, dan pak RW lah yang membantu semua kekurangan dana yang kami butuhkan. Ketika pak RW memberi sambutan di acara maulid, kata-kata yang paling kukenang selamanya adalah:
“Bapak-bapak dan Ibu-ibu, maafkan saya jika selama saya menjabat sebagai ketua RW masih banyak kekurangan di sana-sini. Belum maksimal dalam memperhatikan ibu-ibu dan bapak-bapak. Saya takut dengan jabatan ini pak, saya merasa belum bisa amanah dalam menjalankan roda ketua RW ini. Apalagi kesibukan saya sebagai pedagang cabai membuat perhatian saya kepada ibu-ibu dan bapak-bapak sedikit tersita, sekali lagi saya mohon maaf sebesar-besarnya”
Subhanallah, tiap helaan kata-katanya membuatku tersentak. Adakah pemimpin yang sepertia beliau sekarang ini? Padahal yang kuketahui saat berinteraksi dengannya, beliau adalah pemimpin yang amanah dan perhatian. Bahkan ia menyumbang dana terbesar acaraku dan dananya bersumber dari hasil penjualan cabainya. Ia tak mengambil untung dari kepemimpinannya, namun malah ia berusaha keras untuk mensejahterakan rakyatnya dengan dana pribadi dari usahanya sendiri sebagai penjual cabai.
Kawan, sosok pemimpin adalah idaman bagi semua laki-laki. Lalu, apakah kita sudah siap menjadi pemimpin yang amanah dan adil? Apakah siap kita berkorban demi rakyat? Apakah siap memperhatikan rakyat dengan segala kemampuan yang ada? Alangkah sulitnya bukan? Namun, sebagai laki-laki yang punya selera, sesulit apapun cobaan dan rintangan maka ia akan lalui, oleh karena itu yuk mari kita berbondong-bondong menjadi pemipin yang amanah dan adil, amin.
Malam menghiasi pelupuk mataku. Rasa kantuk yang terasa seakan terhapus dan terbang ke angkasa dengan kesuksesan acara maulid dan perlombaan di mushalla mungilku. Wahai Sang Penggerak jiwa manusia, ayat-ayatMu sungguh indah, membuat hatiku terbirit-birit ketakutan jika mengingkari ayatMu, dan membuatku bahagia ketika kujatuh indah dipelukan ayat-ayatMu. Ya Rabb, Ayat KauniyahMu menakjubkanku, Pak RW lah ayat KauniyahMu, yang menyadarkan diriku untuk bertekuk lutut di mimbarMu sambil melelehkan air mata syahdu karena belum mampu menjadi hamba yang terbaik bagiMu. I love you Tuhan.
Oleh: Adi Nurseha (Profile)



